Senin, 28 Desember 2020

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membangun Karakter Siswa di MSI 1 Kauman

 

PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MEMBANGUN KARAKTER SISWA DI MSI 1 KAUMAN

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Bahasa Indonesia

Dosen Pengampu: Nova Khoirul Anam, M.Pd.

 


 

Disusun Oleh:

Shofa Rania  (2119234) 

 

Kelas: F

 

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN

2019


KATA PENGANTAR 

Alhamdulillah, puji syukur atas kehadirat Allah SWT, atas izin-Nya makalah ini dapat diselesaikan. Shalawat serta salam semoga tercurahkah kepada baginda Nabi agung Muhammad SAW, sahabatnya, keluarganya dan umatnya hingga akhir zaman.

Makalah ini dibuat sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Bahasa Indonesia. Makalah ini menjelaskan tentang “Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membangun Karakter Siswa MSI 1 Kauman”. Hal ini dimaksudkan untuk pengetahuan yang lebih jelas cakupannya.

            Penulis sudah berusaha untuk menyusun makalah ini selengkap mungkin. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada sumber informasi dan referensi beberapa buku, jurnal dan artikel yang menjadi tolak ukur selesainya makalah ini. Penulis juga menerima saran dan kritik dari pembaca guna penyempurnaan penulisan makalah mendatang.

            Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Nova Khoirul Anam, M.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah Bahasa Indonesia yang telah memotivasi dan membimbing kami selama perkuliahan berlangsung. Semoga makalah ini diharapkan bisa bermanfaat bagi para pembacanya. Aamiin.

 

 

 

                                Pekalongan, 19 November 2019

 

 

                Shofa Rania

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR..............................................................................      i

DAFTAR ISI..............................................................................................      ii

BAB I PENDAHULUAN.........................................................................      1

A.    Latar Belakang Masalah...................................................................      1

B.    Rumusan Masalah............................................................................      2

C.    Tujuan ....................................................................................... ......     3

BAB II METODE PENELITIAN...........................................................      4

A.    Tempat dan Waktu Penerlitian.........................................................      4

B.    Jenis Penelitian.................................................................................      4

C.    Sumber Data....................................................................................      4

D.    Teknik Pengumpulan Data...............................................................      5

E.     Populasi dan Sampel........................................................................      6

F.     Teknik Analisa Data.........................................................................      6

BAB III PEMBAHASAN.........................................................................      8

A.    Pengertian Pendidikan Karakter......................................................      8

B.     Tujuan dan Fungsi Pendidikan Karakter.........................................      11    

C.     Pentingnya Pendidikan Karakter.....................................................      13

D.    Peran Guru dalam Membangun Pendidikan Karakter.....................      16

BAB IV PENUTUP...................................................................................      18

A.    Kesimpulan......................................................................................      18

B.     Saran............. ...................................................................................     19

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................      20

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    A. Latar Belakang Masalah

            Pendidikan hingga kini masih dipercaya sebagai media yang sangat ampuh dalam membangun kecerdasan sekaligus kepribadian anak manusia menjadi lebih baik. Pendidikan pada dasarnya adalah upaya meningkatkan kemampuan sumber daya manusia supaya dapat menjadi manusia yang memiliki karakter dan dapat hidup mandiri. Saat ini, yang paling menggembirakan adalah munculnya kesadaran dari segenap elemen bangsa, bahwa karakter generasi muda bangsa dalam tanda bahaya.

            Selain itu, sudah muncul kesadaran untuk memperbaiki dan membangun karakter generasi muda kembali. Membangun karakter dan watak bangsa melalui pendidikan mutlak diperlukan, bahkan tidak bisa ditunda. Pendidikan karakter merupakan proses pembentukan karakter yang memberikan dampak positif terhadap perkembangan emosional, spiritual, dan kepribadian seseorang. Oleh sebab itu,  pendidikan karakter atau pendidikan moral itu merupakan bagian penting dalam membangun jati diri bangsa.

            Persoalan karakter dalam kehidupan manusia sejak dulu sampai sekarang merupakan persoalan yang penting. Krisis moral ini bukan lagi menjadi sebuah permasalahan sederhana namun, memiliki dampak serius di kalangan peserta didik, padahal untuk membangun negara yang maju dibutuhkan generasi muda yang berbudi pekerti luhur dan berkarakter. Persoalan karakter tersebut bisa dilihat dari adanya tawuran pelajar, kenakalan remaja, kriminalitas di kalangan remaja, dan sebagainya. Seiring dengan kemajuan teknologi, nilai – nilai kesopanan, budi pekerti seakan telah diabaikan. Mengakibatkan perilaku peserta didik menyimpang. Fenomena penurunan moral seperti kenakalan remaja, pergaulan bebas dan perilaku menyimpang lainnya sedang terjadi di kalangan remaja.

            Pendidikan pada dasarnya bertujuan untuk membentuk karakter peserta didik. Tujuan yang diharapkan dalam pendidikan tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam pasal 3 yang isinya adalah “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional sudah mencanangkan penerapan pendidikan karakter untuk semua tingkat pendidikan dari SD sampai Perguruan Tinggi. Untuk itu pembentukan karakter perlu dilakukan sejak usia dini. Jika karakter sudah terbentuk sejak usia dini maka tidak akan mudah untuk mengubah karakter seseorang. Pendidikan karakter juga dapat membangun kepribadian bangsa.

Melalui makalah berjudul “Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membangun Karakter Siswa di MSI 1 Kauman” ini,  penulis  ingin  mengkaji  lebih  mendalam  pengertian, tujuan dan fungsi pendidikan  karakter. Sehingga  dapat membangun siswa yang berkarakter di  Madrasah,  khususnya  di MSI 1 Kauman.

 

B.     B. Rumusan Masalah

1.      Bagaimana pengertian pendidikan karakter?

2.      Bagaimana tujuan dan fungsi pendidikan karakter?

3.      Bagaimana pentingnya pendidikan karakter?

4.      Bagaimana peran guru dalam membangun karakter di Madrasah? 

C. C.  Tujuan

1.      Untuk mengetahui pengertian pendidikan karakter.

2.      Untuk mengetahui tujuan dan fungsi pendidikan karakter.

3.      Untuk mengetahui pentingnya pendidikan karakter.

4.      Untuk mengetahui peran guru dalam membangun karakter di Madrasah.

 

 

BAB II

METODE PENELITIAN

 

A.       Tempat dan Waktu Penelitian

Dalam penelitian penentuan lokasi penelitian menjadi hal yang sangat penting guna kelancaran proses pengambilan data, pengolahan, dan penarikan kesimpulan. Adapun tempat penelitian dalam kajian ini adalah di MSI 1 Kauman.

 

B.       Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian sebagai berikut:

1.      Field Research (Penelitian Lapangan) dengan cara wawancara dan observasi untuk mendapatkan informasi atau data secara langsung dari responden di lapangan.

2.      Library Research (Penelitian Pustaka) untuk mendapatkan data-data dalam menyusun teori sebagai landasan ilmiah dengan mengkaji dan menelaah pokok-pokok permasalahan dari literatur yang mendukung dan yang berkaitan dengan pembahasan.

 

C.      Sumber Data

Data-data yang penulis kumpulkan berdasarkan sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber datanya adalah sebagai berikut:

1.         Sumber Data Primer

Sumber primer merupakan jenis data yang diperoleh dan digali dari sumber utamanya, sesuai dengan asalnya dari mana data tersebut diperoleh, maka jenis data ini sering disebut dengan istilah data mentah. Peneliti hanya dapat menggali dan memperoleh jenis data ini dari responden.[1] Keterangan dari responden ini diberikan secara lisan ketika menjawab wawancara, dimana peneliti hanya menyiapkan topik dan daftar pemandu pertanyaan. Selain itu, penulis juga melakukan observasi yaitu pengamatan secara langsung ke lapangan. Adapun responden yang dipilih dalam penelitian ini adalah siswa di MSI 1 Kauman.

2.         Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder adalah sumber data yang dibutuhkan untuk mendukung sumber primer. Karena, penelitian ini tidak terlepas dari kajian filsafat etika dan pendidikan karakter, maka penulis menempatkan sumber data yang berkenaan dengan kajian-kajian tersebut sebagai sumber data sekunder. Adapun sumber data sekunder yang dijadikan rujukan adalah: filsafat etika, ilmu pendididikan, pendidikan karakter dan buku-buku pendukung lainnya.

 

D.    Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.         Wawancara

Wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan cara bertanya langsung. Dalam wawancara ini terjadi interaksi komunikasi antara pihak peneliti selaku penanya dan responden selaku pihak yang diharapkan memberikan jawaban. Teknik digunakan untuk menggali informasi dari peserta didik MSI 1 Kauman  melalui wawancara tersebut, dapat diharapkan memperoleh data atau informasi tambahan yang mendukung penelitian ini. 

2.         Observasi

Observasi yaitu mengadakan pengamatan secara sengaja mengenai fenomena sosial untuk kemudian dilakukan pendekatan. Dalam hal ini peneliti melakukan pengamatan terhadap apa yang akan diamati terkait dengan pendidikan karakter siswa. Dalam melakukan observasi peneliti harus terjun langsung ke lapangan yang bertempat di MSI 1 Kauman.

3.         Dokumentasi

Dokumen adalah catatan peristiwa yang telah berlalu, berbentuk tulis, buku, gambar, atau karya-karya seseorang yang monumental. Penggunaan metode dokumentasi biasanya untuk menyelidiki benda-benda tertulis, seperti buku-buku, majalah, Koran, dokumen, sebagainya. Adapun data-data dalam penelitian ini peneliti dapatkan dari lapangan di antara lain: dokumen-dokumen, gambar, dan lain-lain.

 

E.     Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian dalam hal ini seluruh peserta didik MSI 1 Kauman. Dengan menggunakan purposif sampling yaitu memilih anggota populasi tertentu untuk dijadikan sampel, di antaranya orang-orang mengetahui tentang cara berkarakter yang baik.

 

F.     Teknik Analisis Data

Hasil dari pengumpulan data tersebut akan dibahas dan kemudian dilakukan analisis secara kualitatif, yaitu penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan pelaku yang dapat diamanati dengan metode yang telah ditentukan.

1.        Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif yaitu dengan cara menuturkan dan menguraikan serta menjelaskan data yang terkumpul, metode ini digunakan untuk mengetahui gambaran tentang pentingnya pendidikan karakter dalam membangun karakter siswa di MSI 1 Kauman.

2.        Pola Pikir Induktif

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pola pikir induktif yang berarti pola pikir yang berpijak pada fakta-fakta yang bersifat khusus, kemudian diteliti dan akhirnya dikemukakan pemecahan persoalan yang bersifat umum. Fakta-fakta yang dikumpulkan adalah dari pentingnya pendidikan karakter untuk membangun karakter siswa. Dari pengumpulan data-data dan hasil wawancara dari peserta didik, penulisan mulai memberikan pemecahan persoalan yang bersifat umum, melalui penentuan rumusan masalah dan observasi awal yang telah dilakukan.

 

Dalam hal ini penelitian dilakukan di MSI 1 Kauman kota Pekalongan, sehingga ditemukan pemahaman terhadap pemecahan persoalan dari rumusan masalah yang telah ditentukan. Kemudian ditinjau dari prinsip-prinsip pendidikan untuk menguraikan bagaimana pentingnya pendidikan karakter dalam membangun karakter siswa di MSI 1 Kauman.

 

 

BAB III

PEMBAHASAAN

 

A.    Pengertian Pendidikan Karakter

Secara etimologis kata “pendidikan” berasal dari kata dasar “didik” yang mendapat imbuhan awalan dan akhiran pe-an. Kata “pendidikan” berubah menjadi kata kerja “mendidik” yang berarti membantu anak untuk menguasai aneka pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai yang diwarisi dari keluarga dan masyarakatnya. Istilah ini pertama kali muncul dengan bahasa Yunani yaitu “paedagogiek” yang berarti ilmu menuntun anak, dan “paedagogia” adalah pergaulan dengan anak-anak, sedangkan orangnya yang menuntun/mendidik anak adalah “paedagog”. Orang Romawi melihat pendidikan sebagai educare, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa ketika dilahirkan di dunia. Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai Erziehung yang setara dengan educare, yakni membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan potensi anak.

Dalam bahasa Inggris dikenal education  (kata benda) dan educate  (kata kerja) yang berarti mendidik. Sedangkan dalam KBBI, pendidikan diartikan sebagai proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui proses pengajaran dan pelatihan.[2]

            Dalam Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 1, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pendidikan itu adalah usaha sadar terencana untuk mengembangkan potensi individu demi tercapainya kesejahteraan pribadi, masyarakat dan negara.[3]

Ki Hajar Dewantara mendefinisikan pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai kemaslahatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Dalam makna yang lebih luas, ungkapan Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan juga dapat di definisikan sebagai penuntun, pembimbing, dan petunjuk arah bagi para peserta didik agar mereka dapat tumbuh menjadi dewasa sesuai dengan potensi dan konsep diri yang tertanam dalam diri sebenarnya.[4]

Secara etimologi, karakter berasal dari bahasa Yunani “karasso” yang berarti cetak biru, format dasar, sidik seperti dalam sidik jari. Arti kata karakter tersebut implisit di dalamnya ambiguitas. Mounir mengajukan dua cara interpretasi: pertama, sesuatu yang telah terberi (given) kedua, tingkat kekuatan melalui mana seorang individu mampu menguasai kondisi tersebut.[5]

Menurut Thomas Lickona (1992:22), karakter itu merupakan sifat alami seseorang dalam merespons situasi secara bermoral. Sifat alami itu dimanifestasikan dalam tindakan nyata melalui tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati dan menghargai orang lain, dan karakter-karakter mulia lainnya.  

Sedangkan karakter menurut Ki Hajar Dewantara adalah sebagai sifat jiwanya manusia, mulai dari angan-angan hingga terjelma sebagai tenaga. Dengan adanya budi pekerti, lanjut Ki Hajar Dewantara, manusia akan menjadi pribadi yang merdeka sekaligus berkepribadian, dan dapat mengendalikan diri sendiri.

Setiap orang menurut Ki Hajar Dewantara, memiliki karakter yang berbeda-beda, sebagaimana mereka memiliki roman muka yang berbeda-beda pula. Pendek kata, antara manusia satu dengan yang lain tidak ada kesamaan karakternya, sebagaimana perbedaan guratan tangan atau sidik jari mereka. Karena sifatnya yang konsisten, tetap atau ajeg, maka karakter itu kemudian menjadi penanda seseorang. Misalnya, apakah orang tersebut berkarakter baik, atau berkarakter buruk.[6]

Menurut Kemendiknas, karakter adalah watak, tabiat, akhlaq, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap dan bertindak. Kebijakan terdiri atas sejumlah nilai, moral dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Interaksi seseorang dengan orang lain menumnbuhkan karakter masyarakat dan bangsa. Karakter sering dikaitkan dengan kepribadian, sehingga pembentukan karakter juga dihubungkan dengan pembentukan kepribadian.[7]

Pendidikan karakter menurut Ratna Megawangi, sebagaimana yang dikutip Dharma Kusuma, yaitu sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka dapat memberikan konstribusi positif kepada masyarakatnya.[8]

Pendidikan karakter juga diartikan sebagai upaya penanaman kecerdasan dalam berfikir, penghayatan dalam bentuk sikap, dan pengalaman dalam bentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai luhur yang menjadi jati dirinya, diwujudkan dengan interaksi dengan Tuhannya, diri sendiri, masyarakat dan lingkungannya.[9]

Dari beberapa pengertian yang telah dijelaskan, dapat dikatakan bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan yang menanamkan dan mengembangkan karakter-karakter luhur kepada peserta didik, sehingga mereka memiliki karakter luhur itu, menerapkan, dan mempraktikkan dalam kehidupannya, entah dalam keluarga, sebagai anggota masyarakat dan warga negara.

 

B.     Tujuan dan Fungsi Pendidikan Karakter

Pada prinsipnya, tujuan pendidikan harus selaras dengan tujuan yang menjadi landasan dan dasar pendidikan. Karena tujuan pendidikan harus bersifat universal dan selalu aktual pada segala masa dan zaman.

Adapun pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Tujuan pendidikan karakter menurut Kementerian Pendidikan Nasional adalah mengembangkan karakter peserta didik agar mampu mewujudkan nilai-nilai luhur pancasila.

Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. Melalui program ini diharapkan setiap lulusan memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkarakter mulia, kompetensi akademik yang utuh dan terpadu, sekaligus memiliki kepribadian yang baik sesuai norma-norma dan budaya Indonesia. Pada tataran yang lebih luas, pendidikan karakter nantinya diharapkan menjadi budaya sekolah.

Pendidikan karakter secara terperinci memiliki lima tujuan. Pertama, mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai karakter bangsa. Kedua, mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius. Ketiga, menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa. Keempat, mengembangkan kempuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, dan berwawasan kebangsaan. Kelima, mengembangkan lingkungan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, dan dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).[10]

Sedangkan fungsi utama pada pendidikaan karakter, yaitu:

1.      Fungsi pembentukan dan pengembangan potensi. Pendidikan karakter berfungsi membentuk dan mengembangkan potensi peserta didik agar berpikiran baik, berhati baik dan berperilaku baik. Sesuai dengan falsafah hidup Pancasila.

2.      Fungsi perbaikan dan penguatan. Pendidikan karakter berfungsi memperbaiki dan memperkuat peran keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemerintah untuk ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam pengembangan potensi warga negara dan pembangunan bangsa menuju bangsa yang maju, mandiri, dan sejahtera.

3.      Fungsi penyaring. Pendidikan karakter berfungsi memilah budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat.

Ketiga fungsi itu dilakukan melalui: (1) pengukuhan Pancasila sebagai falsafah dan ideologi negara, (2) pengukuhan nilai dan norma konstitusional UUD 45, (3) penguatan komitmen kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), (4) penguatan nilai-nilai keberagaman sesuai dengan konsepsi Bhineka Tunggal Ika, dan (5) penguatan keunggulan dan daya saing bangsa untuk keberlanjutan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara Indonesia dalam konteks global.[11]

C.    Pentingnya Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter sudah tentu penting untuk semua tingkat pendidikan, yakni dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Secara umum, pendidikan karakter sesungguhnya dibutuhkan semenjak anak usia dini. Apabila karakter seseorang sudah terbentuk sejak usia dini, ketika dewasa tidak akan berubah meski godaan atau rayuan datang begitu menggiurkan. Dengan adanya pendidikan karakter semenjak usia dini, diharapkan persoalan mendasar dalam dunia pendidikan yang akhir-akhir ini sering menjadi keprihatinan bersama dapat diatasi. Sungguh, pendidikan di Indonesia sangat diharapkan dapat mencetak alumni pendidikan yang unggul, yakni para anak bangsa yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, mempunyai keahlian di bidangnya, dan berkarakter.

Berkaitan dengan pendidikan karakter ini, ada yang berpendapat bahwa sesungguhnya pendidikan karakter bertujuan membentuk setiap pribadi menjadi insan yang mempunyai nilai-nilai yang utama ini, terutama dinilai dari perilakunya dalam kehidupan sehari-hari, bukan pada pemahamannya. Dengan demikian, hal yang paling penting dalam pendidikan karakter ini adalah menekankan anak didik untuk mempunyai karakter yang baik dan diwujudkan dalam perilaku keseharian.

Dalam menanggapi pendapat tersebut, penulis tidak sepenuhnya sepakat. Memang benar bahwa hal yang paling penting dalam pendidikan karakter adalah perilaku dari anak didik yang mencerminkan kepribadiannya yaang mempunyai nilai-nilai yang utama. Namun, jika dikatakan bahwa pemahaman bukan hal yang penting, inilah yang perlu untuk diluruskan. Sebab, bagaimanapun baik perilakunya seseorang vila tidak berangkat dari pemahaman yang baik, perilaku tersebut tidak mempunyai dasar yang kuat. Sebaliknya, justru dari pemahaman yang baik seseorang akan terdorong untuk mempunyai perilaku yang baik pula.

Terlepas dari perbedaan konsep mengenai pendidikan karakter bangsa Indonesia memang sangat memerlukan model pendidikan semacam ini. Sebab, pendidikan bukan hanya sebagai wahana untuk mendidik anak didik menjadi cerdas semata, melainkan juga berkarakter. Sungguh, orang-orang yang berkarakter baik sangat dibutuhkan dalam membangun bangsa ini. Hanya orang-orang yang berkarakter baik yang bisa membangun kehidupan yang berkualitas damai dan membahagiakan.[12]

Lickona (1992) menjelaskan beberapa alasan perlunya pendidikan karakter, di antaranya:

1)      Banyaknya generasi muda saling melukai karena lemahnya kesadaran pada nilai-nilai moral.

2)      Memberikan nilai-nilai moral pada generasi muda merupakan salah satu fungsi peradaban yang paling utama.

3)      Peran sekolah sebagai pendidik karakter menjadi semakin penting ketika banyak anak-anak memperoleh sedikit pengajaran moral dari orang tua, masyarakat, atau lembaga keagamaan.

4)      Masih adanya nilai-nilai moral yang secara universal masih diterima seperti perhatian, kepercayaan, rasa hormat, dan tanggung jawab.

5)      Demokrasi memiliki kebutuhan khusus untuk pendidikan moral karena demokrasi merupakan peraturan dari, untuk dan oleh masyarakat.

6)      Tidak ada sesuatu sebagai pendidikan bebas nilai. Sekolah mengajarkan pendidikan bebas nilai. Sekolah mengajarkan nilai-nilai setiap hari melalui desain ataupun tanpa desain.

7)      Komitmen pada pendidikan karakter penting manakala kita mau dan terus menjadi guru yang baik.

8)      Pendidikan karakter yang efektif membuat sekolah lebih beradab, peduli pada masyarakat, dan mengacu pada performansi akademik yang meningkat.

Alasan-alasan di atas menunjukkan bahwa pendidikan karakter sangat perlu ditanamkan sedini mungkin untuk mengantisipasi persoalan di masa depan yang semakin kompleks seperti semakin rendahnya perhatian dan kepedulian anak terhadap lingkungan sekitar, tidak memiliki tanggung jawab, rendahnya kepercayaan diri, dan lain-lain. Lickona dalam Elkind dan Sweet (2004) menggagas pandangan bahwa pendidikan karakter adalah upaya terencana untuk membantu orang untuk memahami, peduli, dan bertindak atas nilai-nilai etika/moral.

Pendidikan karakter ini mengajarkan kebiasaan berpikir dan berbuat yang membantu orang hidup dan bekerja bersama-sama sebagai keluarga, teman, tetangga, masyarakat, dan bangsa. Pandangan ini mengilustrasikan bahwa proses pendidikan yang ada di pendidikan formal, non formal dan informal harus mengajarkan peserta didik atau anak untuk saling peduli dan membantu dengan penuh keakraban tanpa nampak bahwa peran pendidik dan tokoh panutan sangat membantu membentuk karakter peserta didik atau anak.[13]

D.    Peran Guru dalam Pendidikan Karakter

            Dalam karakter pendidikan guru penting sekali dikembangkan nilai-nilai etika dan estetika inti seperti kepedulian, kejujuran, keadilan dan tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain bersama dengan nilai-nilai kinerja pendukungnya seperti ketekunan, etos kerja yang tinggi, dan kegigihan sebagai basis karakter yang baik. Guru harus berkomitmen untuk mengembangkan karakter peserta didik berdasarkan nilai-nilai yang dimaksud serta mengidentifikasikannya dalam bentuk perilaku yang dapat diamati dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Yang terpenting adalah semua komponen sekolah bertanggung jawab terhadap standar-standar perilaku yang konsisten sesuai dengan nilai-nilai inti.[14]

            Guru memegang peranan yang sangat strategis terutama dalam membentuk karakter serta mengembangkan potensi siswa. Keberadaan guru ditengah masyarakat keberadaan guru di tengah masyarakat dapat dijadikan teladan dan rujukan masyarakat sekitar. Bisa dikiaskan, guru adalah penebar cahaya kebenaran dan keagungan nilai. Hal inilah yang menjadikan guru untuk selalu on the right track, pada jalan yang benar, tidak menyimpang dan berbelok, sesuai dengan ajaran agama yang suci, adat istiadat yang baik dan aturan pemerintah. Posisi stategis seorang guru tidak hanya bermakna pasif, justru harus bermakna aktif progresif. Dalam arti duru harus bergerak memberdayakan masyarakat menuju kualitas hidup yang baik dan perfect di segala aspek kehidupan, khususnya pengetahuan, moralitas, sosial, budaya, dan ekonomi kerakyatan.[15]

            Dalam proses belajar mengajar, guru mempunyai tugas untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, mengevaluasi, serta memberi fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan pendidikan karakter. Selain itu, masih banyak peran lain yang harus dimainkan oleh guru terlebih lagi tugas dan peran guru dari hari ke hari semakin berat seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.[16]

            Melalui sentuhan guru diharapkan mampu menghasilkan siswa yang bukan hanya cerdas intelektual melainkan juga secara emosional dan spiritual serta berkarakter. Guru mempengaruhi berbagai aspek  kehidupan baik sosial, budaya dan ekonomi. Dalam keseluruhan proses pendidikan, guru merupakan faktor utama yang bertugas sebagai pendidik. Guru harus bertanggung jawab atas hasil kegiatan belajar anak melalui interaksi belajar mengajar.

Guru merupakan faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya proses belajar.  Maka, guru harus menguasai prinsip-prinsip belajar di samping menguasai materi yang disampaikan. Inilah yang dikategorikan guru sebagai pengajar. Di samping itu, guru juga berperan sebagai pembimbing yaitu dengan memberikan bantuan kepada siswa untuk mencapai pemahaman dan pengarahan diri secara maksimal di sekolah.


 

 

BAB IV

PENUTUP

 

1.         Kesimpulan

Pendidikan pada dasarnya merupakan upaya meningkatkan kemampuan sumber daya manusia supaya dapat menjadi manusia yang memiliki karakter dan dapat hidup mandiri. Pendidikan karakter adalah pendidikan yang menanamkan dan mengembangkan karakter-karakter luhur kepada peserta didik, sehingga mereka memiliki karakter luhur itu, menerapkan, dan mempraktikkan dalam kehidupannya, entah dalam keluarga, sebagai anggota masyarakat dan warga negara.

Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. Secara umum, pendidikan karakter sesungguhnya dibutuhkan semenjak anak usia dini. Apabila karakter seseorang sudah terbentuk sejak usia dini, ketika dewasa tidak akan berubah meski godaan atau rayuan datang begitu menggiurkan.

Dalam pendidikan karakter guru memegang peranan yang sangat strategis terutama dalam membentuk karakter serta mengembangkan potensi siswa. Keberadaan guru ditengah masyarakat keberadaan guru di tengah masyarakat dapat dijadikan teladan dan rujukan masyarakat sekitar. Melalui sentuhan guru diharapkan mampu menghasilkan siswa yang bukan hanya cerdas intelektual melainkan juga secara emosional dan spiritual serta berkarakter. Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang.
Bila pendidikan karakter telah mencapai keberhasilan, tidak diragukan lagi kalau masa depan bangsa Indonesia ini akan mengalami perubahan menuju kejayaan. Dan bila pendidikan karakter ini mengalami kegagalan sudah pasti dampaknya akan sangat besar bagi bangsa ini, negara kita akan semakin ketinggalan dari negara-negara lain.

 

2.         Saran

Pemerintah adalah sebagai kontrol dunia pendidikan karena dari sinilah masa depan bangsa di tentukan. Guru sebagai pendidik sudah sepantasnya dapat menentukan metode yang paling tepat untuk mendidik para siswanya melalui pendekatan psikologis agar tercipta suasana belajar yang nyaman dan kekeluargaan. Kemudian, yang terakhir adalah orang tua sebagai orang terdekat dan merupakan tempat pertama seorang anak mengenal lingkungan hendaknya memberikan contoh yang positif dalam keseharian baik dalam bentuk sikaf maupun komunikasi yang bersidat searah dan dua arah.

Guru harus memberikan rasa aman dan keselamatan kepada setiap peserta didik di dalam menjalani masa-masa belajarnya, karena jika tidak semua pembelajaran yang di jalani anak didik akan sia-sia. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi pembaca. Aamiin.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Asmani, Jamal Makmur. 2011. Tips Menjadi Guru Inspiratif, kreatif, dan Inovatif. Yogyakarta: Diva Press.

Azzet, Akhmad Muhaimin. 2013. Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Hasan, Said Hamid. 2010.  Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta: Puskur Balitbang Kemendiknas.

Kunandar. 2007. Guru Profesional: Implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam sertifikat Guru. Jakarta: Raja Garsindo Persada.

Kusuma, Dharma. 2011. Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Kusuma, Dony. 2004. Pendidikan Karakter. Jakarta: Garsindo.

Koesoemo, Doni. 2010. Pendidikan Karakter Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta: Garsindo.

Megawangi, Ratna. 2007. Semua Berakar Pada Karakter. Jakarta: FE-UI.

Mulyono. 2010. Konsep Pembiayaan Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Medi.

Nashir, Haidar. 2013. Pendidikan Karakter Berbasis Agama Dan Budaya. Yogyakarta: Multi Presindo.

Ramayulis. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

Sairin, Weinata. 2001. Pendidikan yang Mendidik. Jakarta: Yudhistira.

Sholichah, Aas Siti. 2018. Teori-teori Pendidikan dalam Al-Quran, Edukasi Islam. Jurnal Pendidikan Islam. Vol. 07. No. 1.

Teguh, Muhammad. 2005 Metode Penelitian Ekonomi: Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Wibowo, Agus dan Purnama, Sigit. 2013. Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan. Jakarta: Kencana.

AB



[1] Muhammad Teguh, Metode Penelitian Ekonomi: Teori dan Aplikasi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 122.

[2] Ramayulis,  Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), hlm. 13.

[3]  Mulyono,  Konsep Pembiayaan Pendidikan, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), hlm. 48.

[4]  Aas Siti Sholichah, Teori-teori Pendidikan dalam Al-quran, Edukasi Islam, Jurnal Pendidikan Islam, Vol.07, No. 1, 2018, hlm. 29.

[5]  Doni Koesoema , Pendidikan Karakter Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, (Jakarta: Grasindo, 2010), hlm. 90.

[6]  Agus Wibowo dan Sigit Purnama, Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), hlm. 35.

                [7] Haidar Nashir, Pendidikan Karakter Berbasis Agama Dan Budaya, (Yogyakarta: Multi Presindo, 2013), hlm. 10-11.

                [8] Dharma Kusuma, Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2011), hlm. 5.

                [9] Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2011), hlm. 17.         

[10]  Said Hamid Hasan, Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, (Jakarta: Puskur Balitbang Kemendiknas, 2010), hlm. 7.

[11] Dony Kusuma, Pendidikan Karakter, (Jakarta: Garsindo,2004), hlm. 104.

[12] Akhmad Muhaimin Azzet, Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), hlm. 15-18.

[13] Weinata Sairin, Pendidikan yang Mendidik, (Jakarta: Yudhistira, 2001), hlm. 278.

                [14] Ratna Megawangi, Semua Berakar Pada Karakter, (Jakarta: FE-UI, 2007), hlm. 105.

                [15] Jamal Makmur Asmani, Tips Menjadi Guru Inspiratif, kreatif, dan Inovatif (Yogyakarta: Diva Press, 2011), hlm. 203.

                [16] Kunandar, Guru Profesional: Implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam sertifikat Guru, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), hlm. 37.  

0 komentar:

Posting Komentar