PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MEMBANGUN
KARAKTER SISWA DI MSI 1 KAUMAN
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu: Nova Khoirul Anam, M.Pd.

Disusun Oleh:
Shofa Rania (2119234)
Kelas: F
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2019
KATA
PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur atas kehadirat Allah SWT, atas
izin-Nya makalah ini dapat diselesaikan. Shalawat
serta salam semoga tercurahkah kepada baginda Nabi agung Muhammad SAW,
sahabatnya, keluarganya dan umatnya hingga akhir zaman.
Makalah ini dibuat sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Bahasa Indonesia. Makalah ini menjelaskan tentang “Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membangun
Karakter Siswa MSI 1 Kauman”.
Hal ini dimaksudkan untuk pengetahuan yang lebih jelas cakupannya.
Penulis sudah
berusaha untuk menyusun makalah ini selengkap mungkin. Penulis juga mengucapkan
terima kasih kepada sumber informasi dan referensi beberapa buku, jurnal dan
artikel yang menjadi tolak ukur selesainya makalah ini. Penulis juga menerima
saran dan kritik dari pembaca guna penyempurnaan penulisan makalah mendatang.
Penulis juga mengucapkan terima
kasih kepada Nova Khoirul Anam, M.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah Bahasa
Indonesia yang telah memotivasi dan membimbing kami selama perkuliahan
berlangsung. Semoga makalah ini diharapkan bisa bermanfaat bagi para pembacanya. Aamiin.
Pekalongan, 19 November 2019
Shofa
Rania
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................. i
DAFTAR ISI.............................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN......................................................................... 1
A.
Latar Belakang Masalah................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah............................................................................ 2
C.
Tujuan ....................................................................................... ......
3
BAB II METODE PENELITIAN........................................................... 4
A. Tempat dan Waktu Penerlitian......................................................... 4
B. Jenis Penelitian................................................................................. 4
C. Sumber Data.................................................................................... 4
D. Teknik Pengumpulan Data............................................................... 5
E. Populasi dan Sampel........................................................................ 6
F. Teknik Analisa Data......................................................................... 6
BAB III PEMBAHASAN......................................................................... 8
A.
Pengertian
Pendidikan Karakter...................................................... 8
B.
Tujuan
dan Fungsi Pendidikan Karakter......................................... 11
C.
Pentingnya
Pendidikan Karakter..................................................... 13
D.
Peran
Guru dalam Membangun Pendidikan Karakter..................... 16
BAB IV PENUTUP................................................................................... 18
A.
Kesimpulan...................................................................................... 18
B.
Saran............. ................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA............................................................................... 20
BAB I
PENDAHULUAN
A.
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan hingga kini masih dipercaya sebagai media
yang sangat ampuh dalam membangun kecerdasan sekaligus kepribadian anak manusia
menjadi lebih baik. Pendidikan pada dasarnya
adalah upaya meningkatkan kemampuan sumber daya manusia supaya dapat menjadi
manusia yang memiliki karakter dan dapat hidup mandiri. Saat ini, yang paling
menggembirakan adalah munculnya kesadaran dari segenap elemen bangsa, bahwa
karakter generasi muda bangsa dalam tanda bahaya.
Selain itu, sudah muncul kesadaran untuk memperbaiki dan
membangun karakter generasi muda kembali. Membangun karakter dan watak bangsa
melalui pendidikan mutlak diperlukan, bahkan tidak bisa ditunda. Pendidikan
karakter merupakan proses pembentukan karakter yang memberikan dampak positif
terhadap perkembangan emosional, spiritual, dan kepribadian seseorang. Oleh
sebab itu, pendidikan karakter atau
pendidikan moral itu merupakan bagian penting dalam membangun jati diri bangsa.
Persoalan karakter dalam kehidupan manusia sejak dulu
sampai sekarang merupakan persoalan yang penting. Krisis moral ini bukan lagi
menjadi sebuah permasalahan sederhana namun, memiliki dampak serius di kalangan
peserta didik, padahal untuk membangun negara yang maju dibutuhkan generasi
muda yang berbudi pekerti luhur dan berkarakter. Persoalan karakter tersebut
bisa dilihat dari adanya tawuran pelajar, kenakalan remaja, kriminalitas di
kalangan remaja, dan sebagainya. Seiring dengan kemajuan teknologi, nilai –
nilai kesopanan, budi pekerti seakan telah diabaikan. Mengakibatkan perilaku
peserta didik menyimpang. Fenomena penurunan moral seperti kenakalan remaja,
pergaulan bebas dan perilaku menyimpang lainnya sedang terjadi di kalangan
remaja.
Pendidikan pada dasarnya
bertujuan untuk membentuk karakter peserta didik. Tujuan yang diharapkan dalam
pendidikan tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional dalam pasal 3 yang isinya adalah “Pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.” Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional sudah mencanangkan
penerapan pendidikan karakter untuk semua tingkat pendidikan dari SD sampai
Perguruan Tinggi. Untuk itu pembentukan karakter perlu dilakukan sejak usia
dini. Jika karakter sudah terbentuk sejak usia dini maka tidak akan mudah untuk
mengubah karakter seseorang. Pendidikan karakter juga dapat membangun
kepribadian bangsa.
Melalui makalah
berjudul “Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membangun Karakter Siswa di MSI
1 Kauman” ini, penulis ingin
mengkaji lebih mendalam
pengertian, tujuan dan fungsi pendidikan karakter. Sehingga dapat membangun siswa yang berkarakter di Madrasah,
khususnya di MSI 1 Kauman.
B.
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana pengertian pendidikan karakter?
2.
Bagaimana tujuan
dan fungsi pendidikan karakter?
3.
Bagaimana
pentingnya pendidikan karakter?
4.
Bagaimana peran
guru dalam membangun karakter di Madrasah?
C. C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui pengertian pendidikan karakter.
2.
Untuk mengetahui tujuan dan fungsi pendidikan
karakter.
3.
Untuk mengetahui pentingnya pendidikan karakter.
4.
Untuk mengetahui peran guru dalam membangun
karakter di Madrasah.
BAB II
METODE PENELITIAN
A.
Tempat dan Waktu Penelitian
Dalam
penelitian penentuan lokasi penelitian menjadi hal yang sangat penting guna
kelancaran proses pengambilan data, pengolahan, dan penarikan kesimpulan.
Adapun tempat penelitian dalam kajian ini adalah di MSI 1 Kauman.
B.
Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian sebagai
berikut:
1.
Field Research (Penelitian Lapangan) dengan cara wawancara dan observasi untuk mendapatkan
informasi atau data secara langsung dari responden di lapangan.
2.
Library
Research (Penelitian Pustaka) untuk
mendapatkan data-data dalam menyusun teori sebagai landasan ilmiah dengan
mengkaji dan menelaah pokok-pokok permasalahan dari literatur yang mendukung
dan yang berkaitan dengan pembahasan.
C.
Sumber Data
Data-data yang penulis kumpulkan berdasarkan sumber data primer dan
sumber data sekunder. Sumber datanya adalah sebagai berikut:
1.
Sumber Data
Primer
Sumber primer merupakan jenis data yang diperoleh dan digali dari
sumber utamanya, sesuai dengan asalnya dari mana data tersebut diperoleh, maka
jenis data ini sering disebut dengan istilah data mentah. Peneliti hanya dapat
menggali dan memperoleh jenis data ini dari responden.
Keterangan dari responden ini diberikan secara lisan ketika menjawab wawancara,
dimana peneliti hanya menyiapkan topik dan daftar pemandu pertanyaan. Selain
itu, penulis juga melakukan observasi yaitu pengamatan secara langsung ke
lapangan. Adapun responden yang dipilih dalam penelitian ini adalah siswa di MSI
1 Kauman.
2.
Sumber Data
Sekunder
Sumber data sekunder adalah sumber data yang dibutuhkan untuk
mendukung sumber primer. Karena, penelitian ini tidak terlepas dari kajian filsafat
etika dan pendidikan karakter, maka penulis menempatkan sumber data yang
berkenaan dengan kajian-kajian tersebut sebagai sumber data sekunder. Adapun
sumber data sekunder yang dijadikan rujukan adalah: filsafat
etika, ilmu pendididikan, pendidikan karakter dan buku-buku pendukung lainnya.
D.
Teknik
Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang
penulis gunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Wawancara
Wawancara
merupakan metode pengumpulan data dengan cara bertanya langsung. Dalam
wawancara ini terjadi interaksi komunikasi antara pihak peneliti selaku penanya
dan responden selaku pihak yang diharapkan memberikan jawaban. Teknik digunakan
untuk menggali informasi dari peserta didik MSI 1 Kauman melalui wawancara tersebut, dapat diharapkan
memperoleh data atau informasi tambahan yang mendukung penelitian ini.
2.
Observasi
Observasi yaitu mengadakan pengamatan secara sengaja mengenai
fenomena sosial untuk kemudian dilakukan pendekatan. Dalam hal ini peneliti
melakukan pengamatan terhadap apa yang akan diamati terkait dengan pendidikan
karakter siswa. Dalam melakukan observasi peneliti harus terjun langsung ke
lapangan yang bertempat di MSI 1 Kauman.
3.
Dokumentasi
Dokumen adalah catatan peristiwa yang telah berlalu, berbentuk
tulis, buku, gambar, atau karya-karya seseorang yang monumental. Penggunaan
metode dokumentasi biasanya untuk menyelidiki benda-benda tertulis, seperti
buku-buku, majalah, Koran, dokumen, sebagainya. Adapun data-data dalam
penelitian ini peneliti dapatkan dari lapangan di antara lain: dokumen-dokumen,
gambar, dan lain-lain.
E.
Populasi dan
Sampel
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian dalam hal ini seluruh
peserta didik MSI 1 Kauman. Dengan menggunakan purposif sampling yaitu
memilih anggota populasi tertentu untuk dijadikan sampel, di antaranya
orang-orang mengetahui tentang cara berkarakter yang baik.
F.
Teknik Analisis
Data
Hasil dari pengumpulan data tersebut akan dibahas dan kemudian
dilakukan analisis secara kualitatif, yaitu penelitian yang menghasilkan data
deskriptif yang berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan
pelaku yang dapat diamanati dengan metode yang telah ditentukan.
1.
Analisis
Deskriptif
Analisis deskriptif yaitu dengan cara menuturkan dan menguraikan
serta menjelaskan data yang terkumpul, metode ini digunakan untuk mengetahui
gambaran tentang pentingnya pendidikan karakter dalam membangun karakter siswa di
MSI 1 Kauman.
2.
Pola Pikir
Induktif
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pola pikir induktif yang
berarti pola pikir yang berpijak pada fakta-fakta yang bersifat khusus,
kemudian diteliti dan akhirnya dikemukakan pemecahan persoalan yang bersifat
umum. Fakta-fakta yang dikumpulkan adalah dari pentingnya pendidikan karakter
untuk membangun karakter siswa. Dari pengumpulan data-data dan hasil wawancara
dari peserta didik, penulisan mulai memberikan pemecahan persoalan yang
bersifat umum, melalui penentuan rumusan masalah dan observasi awal yang telah
dilakukan.
Dalam hal ini penelitian dilakukan di MSI 1 Kauman kota Pekalongan,
sehingga ditemukan pemahaman terhadap pemecahan persoalan dari rumusan masalah
yang telah ditentukan. Kemudian ditinjau dari prinsip-prinsip pendidikan untuk
menguraikan bagaimana pentingnya pendidikan karakter dalam membangun karakter
siswa di MSI 1 Kauman.
BAB III
PEMBAHASAAN
A.
Pengertian
Pendidikan Karakter
Secara etimologis kata “pendidikan”
berasal dari kata dasar “didik” yang mendapat imbuhan awalan dan akhiran pe-an.
Kata “pendidikan” berubah menjadi kata kerja “mendidik” yang berarti membantu
anak untuk menguasai aneka pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai yang
diwarisi dari keluarga dan masyarakatnya. Istilah ini pertama kali muncul dengan
bahasa Yunani yaitu “paedagogiek”
yang berarti ilmu menuntun anak, dan “paedagogia”
adalah pergaulan dengan anak-anak, sedangkan orangnya yang menuntun/mendidik
anak adalah “paedagog”. Orang Romawi
melihat pendidikan sebagai educare,
yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang
dibawa ketika dilahirkan di dunia. Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai Erziehung yang setara dengan educare, yakni membangkitkan kekuatan
terpendam atau mengaktifkan kekuatan potensi anak.
Dalam bahasa Inggris dikenal education
(kata benda) dan educate (kata kerja) yang berarti mendidik. Sedangkan
dalam KBBI, pendidikan diartikan sebagai proses perubahan sikap dan tingkah
laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui proses
pengajaran dan pelatihan.
Dalam
Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1
ayat 1, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
pendidikan itu adalah usaha sadar terencana untuk mengembangkan potensi
individu demi tercapainya kesejahteraan pribadi, masyarakat dan negara.
Ki Hajar Dewantara mendefinisikan
pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar
mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai
kemaslahatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Dalam makna yang lebih luas,
ungkapan Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan juga dapat di definisikan
sebagai penuntun, pembimbing, dan petunjuk arah bagi para peserta didik agar
mereka dapat tumbuh menjadi dewasa sesuai dengan potensi dan konsep diri yang
tertanam dalam diri sebenarnya.
Secara
etimologi, karakter berasal dari bahasa Yunani “karasso” yang berarti cetak biru, format dasar, sidik seperti dalam
sidik jari. Arti kata karakter tersebut implisit di dalamnya ambiguitas. Mounir
mengajukan dua cara interpretasi: pertama, sesuatu yang telah terberi (given) kedua, tingkat kekuatan melalui
mana seorang individu mampu menguasai kondisi tersebut.
Menurut
Thomas Lickona (1992:22), karakter itu merupakan sifat alami seseorang dalam
merespons situasi secara bermoral. Sifat alami itu dimanifestasikan dalam
tindakan nyata melalui tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab,
menghormati dan menghargai orang lain, dan karakter-karakter mulia lainnya.
Sedangkan
karakter menurut Ki Hajar Dewantara adalah sebagai sifat jiwanya manusia, mulai
dari angan-angan hingga terjelma sebagai tenaga. Dengan adanya budi pekerti,
lanjut Ki Hajar Dewantara, manusia akan menjadi pribadi yang merdeka sekaligus
berkepribadian, dan dapat mengendalikan diri sendiri.
Setiap
orang menurut Ki Hajar Dewantara, memiliki karakter yang berbeda-beda,
sebagaimana mereka memiliki roman muka yang berbeda-beda pula. Pendek kata,
antara manusia satu dengan yang lain tidak ada kesamaan karakternya,
sebagaimana perbedaan guratan tangan atau sidik jari mereka. Karena sifatnya
yang konsisten, tetap atau ajeg, maka
karakter itu kemudian menjadi penanda seseorang. Misalnya, apakah orang
tersebut berkarakter baik, atau berkarakter buruk.
Menurut Kemendiknas,
karakter adalah watak, tabiat, akhlaq, atau kepribadian seseorang yang
terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini dan
digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap dan
bertindak. Kebijakan terdiri atas sejumlah nilai, moral dan norma, seperti
jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain.
Interaksi seseorang dengan orang lain menumnbuhkan karakter masyarakat dan bangsa.
Karakter sering dikaitkan dengan kepribadian, sehingga pembentukan karakter
juga dihubungkan dengan pembentukan kepribadian.
Pendidikan
karakter menurut Ratna Megawangi, sebagaimana yang dikutip Dharma Kusuma, yaitu
sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan
bijak dan mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka dapat
memberikan konstribusi positif kepada masyarakatnya.
Pendidikan
karakter juga diartikan sebagai upaya penanaman kecerdasan dalam berfikir,
penghayatan dalam bentuk sikap, dan pengalaman dalam bentuk perilaku yang
sesuai dengan nilai-nilai luhur yang menjadi jati dirinya, diwujudkan dengan
interaksi dengan Tuhannya, diri sendiri, masyarakat dan lingkungannya.
Dari
beberapa pengertian yang telah dijelaskan, dapat dikatakan bahwa pendidikan karakter adalah
pendidikan yang menanamkan dan mengembangkan karakter-karakter luhur kepada
peserta didik, sehingga mereka memiliki karakter luhur itu, menerapkan, dan
mempraktikkan dalam kehidupannya, entah dalam keluarga, sebagai anggota
masyarakat dan warga negara.
B.
Tujuan dan Fungsi Pendidikan Karakter
Pada prinsipnya,
tujuan pendidikan harus selaras dengan tujuan yang menjadi landasan dan dasar
pendidikan. Karena tujuan pendidikan harus bersifat universal dan selalu aktual
pada segala masa dan zaman.
Adapun pendidikan
karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan
di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia
peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi
lulusan. Tujuan pendidikan karakter menurut Kementerian Pendidikan Nasional
adalah mengembangkan karakter peserta didik agar mampu mewujudkan nilai-nilai
luhur pancasila.
Melalui
pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan
dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta
mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam
perilaku sehari-hari. Melalui program ini diharapkan setiap lulusan memiliki
keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkarakter
mulia, kompetensi akademik yang utuh dan terpadu, sekaligus memiliki
kepribadian yang baik sesuai norma-norma dan budaya Indonesia. Pada tataran
yang lebih luas, pendidikan karakter nantinya diharapkan menjadi budaya
sekolah.
Pendidikan
karakter secara terperinci memiliki lima tujuan. Pertama, mengembangkan potensi
kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang
memiliki nilai-nilai karakter bangsa. Kedua, mengembangkan kebiasaan dan
perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal
dan tradisi budaya bangsa yang religius. Ketiga, menanamkan jiwa kepemimpinan dan
tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa. Keempat,
mengembangkan kempuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, dan
berwawasan kebangsaan. Kelima, mengembangkan lingkungan sekolah sebagai
lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, dan
dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).
Sedangkan
fungsi utama pada pendidikaan karakter, yaitu:
1.
Fungsi pembentukan dan pengembangan potensi. Pendidikan karakter
berfungsi membentuk dan mengembangkan potensi peserta didik agar berpikiran
baik, berhati baik dan berperilaku baik. Sesuai dengan falsafah hidup
Pancasila.
2.
Fungsi perbaikan dan penguatan. Pendidikan karakter berfungsi memperbaiki
dan memperkuat peran keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemerintah
untuk ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam pengembangan potensi
warga negara dan pembangunan bangsa menuju bangsa yang maju, mandiri, dan
sejahtera.
3.
Fungsi penyaring. Pendidikan karakter berfungsi memilah budaya bangsa
sendiri dan menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai
budaya dan karakter bangsa yang bermartabat.
Ketiga fungsi itu dilakukan melalui: (1) pengukuhan Pancasila sebagai
falsafah dan ideologi negara, (2) pengukuhan nilai dan norma konstitusional UUD
45, (3) penguatan komitmen kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI), (4) penguatan nilai-nilai keberagaman sesuai dengan konsepsi Bhineka
Tunggal Ika, dan (5) penguatan keunggulan dan daya saing bangsa untuk
keberlanjutan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara Indonesia dalam konteks
global.
C.
Pentingnya Pendidikan Karakter
Pendidikan
karakter sudah tentu penting untuk semua tingkat pendidikan, yakni dari sekolah
dasar hingga perguruan tinggi. Secara umum, pendidikan karakter sesungguhnya
dibutuhkan semenjak anak usia dini. Apabila karakter seseorang sudah terbentuk
sejak usia dini, ketika dewasa tidak akan berubah meski godaan atau rayuan
datang begitu menggiurkan. Dengan adanya pendidikan karakter semenjak usia
dini, diharapkan persoalan mendasar dalam dunia pendidikan yang akhir-akhir ini
sering menjadi keprihatinan bersama dapat diatasi. Sungguh, pendidikan di
Indonesia sangat diharapkan dapat mencetak alumni pendidikan yang unggul, yakni
para anak bangsa yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, mempunyai keahlian di
bidangnya, dan berkarakter.
Berkaitan
dengan pendidikan karakter ini, ada yang berpendapat bahwa sesungguhnya
pendidikan karakter bertujuan membentuk setiap pribadi menjadi insan yang
mempunyai nilai-nilai yang utama ini, terutama dinilai dari perilakunya dalam
kehidupan sehari-hari, bukan pada pemahamannya. Dengan demikian, hal yang
paling penting dalam pendidikan karakter ini adalah menekankan anak didik untuk
mempunyai karakter yang baik dan diwujudkan dalam perilaku keseharian.
Dalam
menanggapi pendapat tersebut, penulis tidak sepenuhnya sepakat. Memang benar
bahwa hal yang paling penting dalam pendidikan karakter adalah perilaku dari
anak didik yang mencerminkan kepribadiannya yaang mempunyai nilai-nilai yang
utama. Namun, jika dikatakan bahwa pemahaman bukan hal yang penting, inilah
yang perlu untuk diluruskan. Sebab, bagaimanapun baik perilakunya seseorang
vila tidak berangkat dari pemahaman yang baik, perilaku tersebut tidak
mempunyai dasar yang kuat. Sebaliknya, justru dari pemahaman yang baik
seseorang akan terdorong untuk mempunyai perilaku yang baik pula.
Terlepas
dari perbedaan konsep mengenai pendidikan karakter bangsa Indonesia memang
sangat memerlukan model pendidikan semacam ini. Sebab, pendidikan bukan hanya
sebagai wahana untuk mendidik anak didik menjadi cerdas semata, melainkan juga
berkarakter. Sungguh, orang-orang yang berkarakter baik sangat dibutuhkan dalam
membangun bangsa ini. Hanya orang-orang yang berkarakter baik yang bisa
membangun kehidupan yang berkualitas damai dan membahagiakan.
Lickona (1992) menjelaskan beberapa alasan perlunya
pendidikan karakter, di antaranya:
1) Banyaknya generasi muda saling melukai
karena lemahnya kesadaran pada nilai-nilai moral.
2) Memberikan nilai-nilai moral pada
generasi muda merupakan salah satu fungsi peradaban yang paling utama.
3) Peran sekolah sebagai pendidik karakter
menjadi semakin penting ketika banyak anak-anak memperoleh sedikit pengajaran
moral dari orang tua, masyarakat, atau lembaga keagamaan.
4) Masih adanya nilai-nilai moral yang
secara universal masih diterima seperti perhatian, kepercayaan, rasa hormat,
dan tanggung jawab.
5) Demokrasi memiliki kebutuhan khusus untuk
pendidikan moral karena demokrasi merupakan peraturan dari, untuk dan oleh
masyarakat.
6) Tidak ada sesuatu sebagai pendidikan
bebas nilai. Sekolah mengajarkan pendidikan bebas nilai. Sekolah mengajarkan
nilai-nilai setiap hari melalui desain ataupun tanpa desain.
7) Komitmen pada pendidikan karakter penting
manakala kita mau dan terus menjadi guru yang baik.
8) Pendidikan karakter yang efektif membuat
sekolah lebih beradab, peduli pada masyarakat, dan mengacu pada performansi
akademik yang meningkat.
Alasan-alasan di atas menunjukkan bahwa pendidikan karakter sangat perlu
ditanamkan sedini mungkin untuk mengantisipasi persoalan di masa depan yang
semakin kompleks seperti semakin rendahnya perhatian dan kepedulian anak
terhadap lingkungan sekitar, tidak memiliki tanggung jawab, rendahnya
kepercayaan diri, dan lain-lain. Lickona dalam Elkind dan Sweet (2004)
menggagas pandangan bahwa pendidikan karakter adalah upaya terencana untuk
membantu orang untuk memahami, peduli, dan bertindak atas nilai-nilai etika/moral.
Pendidikan karakter ini mengajarkan kebiasaan berpikir dan berbuat yang
membantu orang hidup dan bekerja bersama-sama sebagai keluarga, teman,
tetangga, masyarakat, dan bangsa. Pandangan ini mengilustrasikan bahwa proses
pendidikan yang ada di pendidikan formal, non formal dan informal harus
mengajarkan peserta didik atau anak untuk saling peduli dan membantu dengan
penuh keakraban tanpa nampak bahwa peran pendidik dan tokoh panutan sangat
membantu membentuk karakter peserta didik atau anak.
D.
Peran Guru dalam Pendidikan Karakter
Dalam
karakter pendidikan guru penting sekali dikembangkan nilai-nilai etika dan
estetika inti seperti kepedulian, kejujuran, keadilan dan tanggung jawab, dan
rasa hormat terhadap diri dan orang lain bersama dengan nilai-nilai kinerja
pendukungnya seperti ketekunan, etos kerja yang tinggi, dan kegigihan sebagai
basis karakter yang baik. Guru harus berkomitmen untuk mengembangkan karakter
peserta didik berdasarkan nilai-nilai yang dimaksud serta
mengidentifikasikannya dalam bentuk perilaku yang dapat diamati dalam kehidupan
sekolah sehari-hari. Yang terpenting adalah semua komponen sekolah bertanggung
jawab terhadap standar-standar perilaku yang konsisten sesuai dengan
nilai-nilai inti.
Guru
memegang peranan yang sangat strategis terutama dalam membentuk karakter serta
mengembangkan potensi siswa. Keberadaan guru ditengah masyarakat keberadaan
guru di tengah masyarakat dapat dijadikan teladan dan rujukan masyarakat
sekitar. Bisa dikiaskan, guru adalah penebar cahaya kebenaran dan keagungan
nilai. Hal inilah yang menjadikan guru untuk selalu on the right track, pada
jalan yang benar, tidak menyimpang dan berbelok, sesuai dengan ajaran agama
yang suci, adat istiadat yang baik dan aturan pemerintah. Posisi stategis
seorang guru tidak hanya bermakna pasif, justru harus bermakna aktif progresif.
Dalam arti duru harus bergerak memberdayakan masyarakat menuju kualitas hidup
yang baik dan perfect di segala aspek kehidupan, khususnya pengetahuan,
moralitas, sosial, budaya, dan ekonomi kerakyatan.
Dalam
proses belajar mengajar, guru mempunyai tugas untuk mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, mengevaluasi, serta memberi
fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan pendidikan karakter. Selain
itu, masih banyak peran lain yang harus dimainkan oleh guru terlebih lagi tugas
dan peran guru dari hari ke hari semakin berat seiring dengan perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni.
Melalui sentuhan guru diharapkan mampu
menghasilkan siswa yang bukan hanya cerdas intelektual melainkan juga secara
emosional dan spiritual serta berkarakter. Guru mempengaruhi berbagai
aspek kehidupan baik sosial, budaya dan
ekonomi. Dalam keseluruhan proses pendidikan, guru merupakan faktor utama yang
bertugas sebagai pendidik. Guru harus bertanggung jawab atas hasil kegiatan
belajar anak melalui interaksi belajar mengajar.
Guru merupakan faktor yang mempengaruhi berhasil
tidaknya proses belajar. Maka, guru
harus menguasai prinsip-prinsip belajar di samping menguasai materi yang
disampaikan. Inilah yang dikategorikan guru sebagai pengajar. Di samping itu,
guru juga berperan sebagai pembimbing yaitu dengan memberikan bantuan kepada
siswa untuk mencapai pemahaman dan pengarahan diri secara maksimal di sekolah.
BAB IV
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Pendidikan
pada dasarnya merupakan upaya meningkatkan kemampuan sumber daya manusia supaya
dapat menjadi manusia yang memiliki karakter dan dapat hidup mandiri. Pendidikan karakter
adalah pendidikan yang menanamkan dan mengembangkan karakter-karakter luhur
kepada peserta didik, sehingga mereka memiliki karakter luhur itu, menerapkan,
dan mempraktikkan dalam kehidupannya, entah dalam keluarga, sebagai anggota
masyarakat dan warga negara.
Melalui pendidikan karakter
diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan
pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi
nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku
sehari-hari. Secara umum, pendidikan karakter sesungguhnya dibutuhkan semenjak
anak usia dini. Apabila karakter seseorang sudah terbentuk sejak usia dini,
ketika dewasa tidak akan berubah meski godaan atau rayuan datang begitu
menggiurkan.
Dalam pendidikan
karakter guru memegang peranan yang sangat strategis terutama dalam membentuk
karakter serta mengembangkan potensi siswa. Keberadaan guru ditengah masyarakat
keberadaan guru di tengah masyarakat dapat dijadikan teladan dan rujukan
masyarakat sekitar. Melalui sentuhan guru diharapkan mampu menghasilkan siswa
yang bukan hanya cerdas intelektual melainkan juga secara emosional dan
spiritual serta berkarakter. Pendidikan karakter bertujuan untuk
meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah
pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara
utuh, terpadu, dan seimbang.
Bila pendidikan karakter telah
mencapai keberhasilan, tidak diragukan lagi kalau masa depan bangsa Indonesia
ini akan mengalami perubahan menuju kejayaan. Dan bila pendidikan karakter ini
mengalami kegagalan sudah pasti dampaknya akan sangat besar bagi bangsa ini,
negara kita akan semakin ketinggalan dari negara-negara lain.
2.
Saran
Pemerintah adalah sebagai kontrol dunia pendidikan karena dari sinilah masa
depan bangsa di tentukan. Guru sebagai pendidik sudah sepantasnya dapat
menentukan metode yang paling tepat untuk mendidik para siswanya melalui
pendekatan psikologis agar tercipta suasana belajar yang nyaman dan
kekeluargaan. Kemudian, yang terakhir adalah orang tua sebagai orang terdekat
dan merupakan tempat pertama seorang anak mengenal lingkungan hendaknya
memberikan contoh yang positif dalam keseharian baik dalam bentuk sikaf maupun
komunikasi yang bersidat searah dan dua arah.
Guru harus memberikan rasa aman dan keselamatan kepada setiap peserta didik
di dalam menjalani masa-masa belajarnya, karena jika tidak semua pembelajaran
yang di jalani anak didik akan sia-sia. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua, khususnya bagi pembaca. Aamiin.
DAFTAR PUSTAKA
Wibowo, Agus dan Purnama, Sigit. 2013. Pendidikan Karakter di
Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
AB
Muhammad Teguh, Metode Penelitian Ekonomi: Teori dan Aplikasi,
(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 122.